EMERGENCY – Program Vokasi UI

Seminar EMERGENCY UI:

Gencarkan Komunikasi Bencana di Indonesia

 

Depok – Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa sejak tahun 2002 – 2014, kejadian bencana di Indonesia secara umum mengalami peningkatan. Pada tahun 2002, terjadi 143 bencana namun 12 tahun kemudian, setidaknya 2.000 bencana terjadi.  Sayangnya, jumlah kejadian tidak diiringi oleh komunikasi yang baik kepada masyarakat.

Dalam acara Vokom Expo 2015: EMERGENCY (Ecological Seminar and Urgency in Safety), Rabu (16/12), Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, M. Si., APU., mengatakan “Komunikasi bencana di Indonesia secara umum memang masih minim. Jika dinilai dari skala satu hingga sepuluh, enam menjadi angka yang saya berikan terkait komunikasi bencana ini,”

Sutopo menjelaskan sejauh ini masyarakat baru sebatas sadar namun kesiagaan terhadap bencana masih dirasa kurang. Oleh sebab itu, diperlukan komunikasi efektif yang dapat dilakukan dengan pendekatan kultural yaitu mengomunikasikan sesuai dengan budaya masyarakat setempat.

Terkait pendekatan kultural, Sutopo menilai bahwa erupsi Gunung Kelud menjadi contoh bencana yang dapat teratasi dengan baik. Pemanfaatan local wisdom sebagai dasar pengelolaan bencana patut dicontoh. Hasilnya sekitar 56.000 jiwa dapat terselamatkan dari bahaya erupsi, 4 orang meninggal dunia dan tidak ada orang yang hilang.

Selain melakukan pendekatan kultural, kampanye kebencanaan juga dapat mulai digalakkan untuk meningkatkan kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Hal ini disampaikan oleh mantan jurnalis CNN Internasional, German Gazoline Mintapradja.

“Edukasi mengenai kebencanaan ini bahkan dapat dilakukan sejak dini misalnya, saat anak belajar mewarnai. Orangtua bisa saja memberikan gambar bencana. Sehingga, awareness terkait bencana ini sudah muncul dari kecil” ujar German.

Hal senada juga disampaikan oleh Maha Eka Swasta, Editor dan Fotografer ANTARA. Maha menambahkan aspek lainnya yang perlu diperhatikan saat melaporkan bencana, yaitu aspek aspek etika jurnalistik. Maha menunjukan contoh foto yang masih dapat diterima oleh publik.

“Foto yang masih bisa disampaikan dalam sebuah bencana bukan foto yang vulgar terutama terkait korban. Jika foto dirasa vulgar, akan lebih baik menggunakan illustrasi saja, karena foto yang diblur itu adalah foto yang gagal,” ujar Maha.

Sebelum terjadi bencana, media memiliki peran mengomunikasikan cara mencegah dan merespon bencana. Lalu, saat terjadi, media berfungsi sebagai pemberi informasi, baik itu suasana, kondisi, hingga kejadian aktual. Bahkan setelah bencana terjadi, media memiliki kekuatan untuk mengubah maupun memembentuk peraturan pemerintah.

“Sebenarnya meliput bencana bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kami juga tidak begitu senang menyoroti duka orang lain. Namun hal tersebut perlu disampaikan pada public,” tambahnya.

Dalam acara EMERGENCY, terdapat pula pameran yang diikuti oleh lembaga yang fokus terhadap bencana, diantaranya adalah Blood for Life, BNPB, DRRC UI, PKPU, Foodbank of Indonesia, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Indonesian Disaster Emergency Response Unit (I-DERU) dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI. Irvan Nugraha, Sekretaris Jendral I-DERU mengatakan, “Perlu diadakan kembali acara yang melibatkan stakeholder di bidang kebencanaan. Acara bertema bencana seperti ini saya harapkan tidak berhenti. Suasana yang hangat dan mengedukasi masyarakat perlu dibangun berkelanjutan”

###

 

Informasi lebih lanjut

Kianti Azizah – Humas Emergency

kiantiazizah@ui.ac.id / kiantiazizah@gmail.com

Ph. 081289247046 [Whatsapp available]